28 August 2019

Belajar Mengemudi

Setelah maju-mundur tapi nggak cantik, akhirnya saya membulatkan tekad untuk ikut kursus stir mobil.

Setelah muter-muter google dan mencari review, pilihan akhirnya jatuh ke Auto Mitsuda, selain karena lokasinya yang dekat rumah dan waktu latihannya yang sesuai, respon adminnya pun baik saat saya banyak tanya via whatsapp.

Sebetulnya paket yang ditawarkan untuk mulai belajar dari dasar adalah 10 jam untuk manual atau 10 jam untuk matic tapi karena saya mau belajar keduanya dan tidak mau selama itu, jadi saya request untuk dikombinasikan saja belajarnya, akhirnya disarankan untuk ambil 6 jam manual dan 4 jam matic.

Durasi tiap pertemuan adalah 2 jam sehingga waktu belajarnya lebih terasa dibandingkan jika hanya 1 jam seperti penyedia kursus lainnya. Awal belajar saya dibawa ke dalam komplek perumahan yang tidak terlalu ramai dan banyak jalan lurusnya. Instrukturnya mengarahkan jalan lurus dan belok kanan-kiri hingga tau-tau kami sudah di pintu keluar kompleks dan berhadapan dengan jalan raya, JRENG! hororpun dimulai, saya baru sejam belajar dari yang benar-benar buta mengendarai mobil trus tiba-tiba sekarang berhadapan dengan jalan raya yang kita semua tahu gimana bar-bar nya itu kondisi jalanan Jakarta.

Beruntung saya dapat instruktur yang bikin saya PD untuk nyetir di jalan raya, beliau bikin saya yakin kalau saya bisa menaklukan bar-bar nya jalanan Jakarta. Tapi emang sih kalau nyetir dengan sticker LATIHAN di mobilnya bisa bikin kita pede karena ada pedal rem juga di kursi instruktur sebelah kita, selain itu, pengendara lain pun otomatis minggir biar aman dari kita, hahahaha

Seminggu setelah latihan, saya pun mengajukan pembuatan SIM, dibantu dari tempat kursus ini. Weekend ini rencananya akan nyoba nyetir, do'a kan saya ya, semangat!


30 July 2018

Via Ferrata di Gunung Parang

Sabtu pagi dengan semangat menggebu, kami group ber-enam, melakukan perjalanan menuju Gunung Parang Purwakarta. Kami memilih menggunakan kendaraan pribadi dengan alasan supaya punya waktu yang lebih fleksibel dan tidak terburu-buru mengejar kereta.

Kami berniat melakukan Via Ferrata di Gunung Parang - Purwakarta. Untuk yang nggak tahu, berdasarkan Wikipedia, Via Ferrata berasal dari bahasa Italia yang artinya jalur besi dan memang jalur yang kami susuri sudah dipasang pijakan besi agar mudah dilalui, untuk pendaki pemula, pas nih mencoba Via Ferrata dulu sebelum menaklukan gunung lainnya.

Salah seorang teman kantor kami yang memang anak gunung banget, punya kenalan di salah satu operator Via Ferrata, jadi proses booking kami pun berjalan mulus, maklum, Via Ferrata ini lagi hype banget jadi full booked mulu tiap minggu nya.

Kami naik melalui operator Badega. Mereka punya 2 pilihan jalur, yaitu ketinggian 300 meter dan 900 meter. Karena melihat jalurnya yang terlihat gampang, dengan pede -nya milih yang 900 meter, naiknya emang gampang sih tapi turunnya kaki mulai gemetar, lelah jenderal!

Sampai bawah lagi, kaki sukses bergetar hebat, lemas, berasa kayak gempa aja gitu jalannya jadi nggak lurus, hahahahaha... Tapi happy-lah, pengalaman baru yang menyenangkan banget!

300 Meters, yeay!

I did it, 900 Meters!



03 April 2018

TWA Gunung Papandayan

Setelah dari Papandayan Camping Ground kami langsung naik ke atas menuju Taman Wisata Alam Gunung Papandayan yang ternyata nggak jauh-jauh amat dari lokasi si Camping Ground tadi.

Kami disambut oleh gerbang besar dan petugas loket karena untuk masuk ke TWA ini ada biayanya. Begitu masuk kami langsung disambut oleh Gunung Papandayan yang gagah menjulang dan mengeluarkan aroma busuk khas belerang. Karena Gunung Papandayan ini adalah gunung yang tandus akibat pernah terjadi penambangan liar maka panasnya sungguh luar biasa, jadi siapkan topi dan masker yah.

Kami naik ke Papandayan dari sisi di seberang Hutan Mati sehingga kami tidak sempat menyambangi Hutan Mati tersebut karena terkendala waktu dan kondisi. Maklum yah, ada peserta cilik juga nih.


02 April 2018

Semi-Glamping di Papandayan Camping Ground

Pasti udah pada tahu dong sama yang namanya Glamping a. k. a. Glamour Camping? Nah, kali ini saya ikutan nyobain Glamping nih tapi tentu saja bukan full Glamping seperti pada postingan saya sebelumnya. Nyobain yang ala-ala aja, semi-glamping gitu deh.

kenapa saya sebut semi-glamping? here are some of the why's :
  • listrik terbatas, listrik disini hanya menyala setelah jam 6 sore dan padam lagi sekitar jam 6 pagi
  • aliran listrik mengandalkan tenaga air, jadi kalau airnya kecil ya listrik nggak akan nyala
  • toilet hanya ada di dekat pintu masuk : 2 di sebelah kiri pintu masuk dan di dekat parkiran. Saya tidak masuk ke toilet di dekat parkiran jadi nggak tahu ada berapa toilet disana.
  • untuk yang memilih rumah pohon dapat toilet sendiri sih tapi nggak tahu deh airnya sama kecilnya dengan yang di depan atau nggak

Group kami yang terdiri dari 11 orang dewasa dan 3 anak-anak memilih menginap di 4 tenda dan kebetulan kami dapat tenda yang paling ujung, jadi berasa bebas dan luas aja, senang deh.

Keuntungan lainnya dapat posisi paling ujung, walaupun jadi semakin jauh dari toilet, adalah view kami menjadi semakin luas. Menikmati sunrise tanpa harus berjalan jauh karena tebing adalah milik kami, it's really like our own private backyard, hahahaha... 

Tapi jangan ditanya cara kesananya yah, karena saya hanya penumpang yang duduk manis di belakang dan sibuk menikmati pemandangan diluar :D

Price List Papandayan Camping Ground

Sedikit contekan lokasi dan elevasi Papandayan Camping Ground




02 April 2017

River Tubing di Sungai Cigunung

Berbekal sedikit info yang didapat dari internet, kami (saya, Rahma & Trias) nekat ke Cisaat untuk main river tubing di sungai Cigunung. Memang sih niat awalnya untuk menghadiri resepsi teman kantor yang diadakan di Sukabumi, tapi akhirnya kami tiba di gedung resepsi pun sudah mepet acara selesai, hahahahaha!

Untuk mencapai Situ Gunung ini, dari Sukabumi kota kita naik angkot hijau jurusan Cisaat, turun di Polsek Cisaat, lalu lanjut jalan ke arah dalam dan naik angkot warna merah jurusan Cisaat - Situ Gunung. Angkot ini sebenarnya nggak sampai pintu masuk Taman Nasional - yang merupakan pintu masuk ke Rakata Campsite - jadi kita harus ngomong ke si akang supirnya kalau kita mau ke gunung, nanti dianterin deh sampai pintu masuk Taman Nasional Gede Pangrango nya.

Dari pintu masuk itu, kita belok kiri dan jalan pelan-pelan sambil lihat ke arah kiri dan memperhatikan papan nama si Rakata Campsite ini. Papan nama ini sungguh kecil dan berwarna coklat, sehingga kalau kita nggak jeli pasti terlewat, seperti kami yang kelewat jauh sampai masuk ke dalam hutan Taman Nasional 😑😵



Jadwal River Tubing ini cuma ada 2x sehari, jam 08:30 dan 10:30, itupun kalau cuaca dan kondisi alamnya memungkinkan, kalau nggak yah wassalam.

Rakata Campsite ini ada di dalam area Tanakita Glamping, eh atau sebaliknya ya? ya pokoknya begitulah. Karena kami hanya rakyat jelata yang nggak sanggup untuk bayar Rp550.000 per orang per malam - iya, per orang cuy, bukan per tenda - jadi kami cuma bisa ikutan river tubingnya aja padahal mah ngilernya bukan main untuk camping disana, pemandangan syantiiikkk banget #ngiler#

Untuk yang camping di Tanakita, HTM river tubing cuma Rp150.000 tapi kalau nggak HTMnya Rp225.000 include sarapan dan makan siang. Tanpa makan, HTMnya jadi Rp195.000, nah karena setelah river tubing kami akan ke resepsi teman di Sukabumi kota jadilah kami ambil paket yang tanpa makan biar bisa makan di acara resepsi :))

Jeram di sungai Cigunung ini wow banget, sebelumnya saya pernah ikutan tubing di Pindul dan Kali Suci, tapi jeramnya nggak ada apa-apanya dibanding sungai Cigunung ini. Selain jeramnya yang kencang, batu-batu kali nya pun segede alaihim gambreng besarnya, tapi sungguh-sungguh menyenangkan, saya puas!

Hospitality si Rakata Adventure ini patut diacungi jempol, crewnya ramah, pelayanannya pun kece. Dingin-dingin setelah tubing disuguhi teh panas & pisang goreng rasanya nikmat banget.

Semuanya sempurna, cuma satu aja kurangnya, kurang ramah dikantong untuk glampingnya, hahahahaha!

Breakdown :
Kereta Bogor - Sukabumi Rp25.000 x2 PP
Angkot Sukabumi - Cisaat Rp5.000 x2 PP
Angkot Cisaat - Situgunung RP10.000 x2 PP
Tiket Masuk TNGP Rp18.500
River Tubing Rp195.000

02 May 2013

Bulu Ketek

A friend of mine just said
hidup harus seperti bulu ketek, walaupun dikempit, dicukur dan dicabut, walaupun bau, tapi ia tetap hidup dan tumbuh
*brb, ketawa ngakak dulu, LOL*

Tapi bener juga sih, itu bulu ketek koq tangguh amat yak?
 

Sweet Swing Sweat Template by Ipietoon Cute Blog Design